.jpeg)
Dalam rangka kunjungan kerja ke Politeknik Pelayaran, Dr. Robby Kurniawan, S.STP., M.Si., M.M.Tr., QGIA., QCRO., CGRE., Staf Ahli Bidang Kawasan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan, memberikan kuliah umum kepada Taruna-taruni serta para Dosen Politeknik Pelayaran Malahayati, yang mengangkat tema “Shaping the Future of Maritime Transport: Green Energy, Digital Innovation, and Sustainable Multimodal Connectivity”
ACEH Sektor maritim global saat ini berada di bawah tekanan besar akibat tantangan perubahan iklim, yang menuntut transformasi radikal menuju ekosistem yang lebih ramah lingkungan. Dalam sebuah pemaparan di Poltekpel Malahayati, Dr. Robby Kurniawan, S.STP., M.Si., M.M.Tr., QGIA., QCRO., CGRE., selaku Staf Ahli Bidang Kawasan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan, menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi era Green Shipping dan inovasi digital.
Transformasi Dekarbonisasi Maritim
Beliau menjelaskan bahwa Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menetapkan target ambisius melalui strategi gas rumah kaca 2023, yang mencakup pengurangan emisi karbon dari kapal setidaknya 40% pada tahun 2030 dan mengejar Net-Zero Emission pada tahun 2050. Hal ini memicu perubahan besar dalam industri pembuatan kapal, pasar bahan bakar maritim, hingga infrastruktur pelabuhan.
"Masa depan daya saing maritim akan sangat bergantung pada kinerja lingkungan, efisiensi energi, dan kecanggihan teknologi," paparnya dalam materi tersebut. Beberapa inovasi teknologi yang disoroti meliputi sistem propulsi dual-fuel, penggunaan metanol hijau, amonia, hingga elektrifikasi kapal feri seperti yang telah dirintis di Norwegia.
Peluang dan Tantangan bagi Indonesia
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada konektivitas maritim yang kuat. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat logistik maritim hijau di ASEAN, didukung oleh sumber daya energi terbarukan dan potensi bahan bakar nabati (biofuel) yang melimpah.
Saat ini, Indonesia telah mulai mengimplementasikan penggunaan bahan bakar B40 pada armada kapal domestik melalui PT Pertamina International Shipping. Namun, tantangan besar masih membayangi, seperti armada domestik yang menua dan keterbatasan infrastruktur pelabuhan hijau (green port).
Taruna sebagai Calon Pemimpin Masa Depan
Kepada para taruna Poltekpel Malahayati, Beliau menekankan bahwa mereka bukan sekadar calon pelaut, melainkan calon pemimpin masa depan yang harus memiliki karakter dan wawasan berkelanjutan. Para taruna yang akan lulus pada tahun 2026/2027 akan langsung menghadapi regulasi internasional yang ketat seperti EEXI (Energy Efficiency Existing Ship Index) dan CII (Carbon Intensity Indicator).
"Kalian harus siap menjadi Green Seafarer dan Smart Operator yang mampu beradaptasi dengan teknologi hijau dan operasional digital," tegasnya. Kompetensi kunci yang harus dikuasai mencakup pengoperasian maritim digital, manajemen pelabuhan cerdas, hingga kesadaran etika lingkungan di laut.
Menutup pemaparannya Dr. Robby Kurniawan, S.STP., M.Si., M.M.Tr., QGIA., QCRO., CGRE., mengingatkan bahwa transportasi maritim bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian untuk menggerakkan peradaban bangsa. Ia mendorong para taruna untuk terus beradaptasi, karena di era yang penuh ketidakpastian (VUCA) ini, mereka yang paling mampu menyesuaikan diri dengan perubahanlah yang akan bertahan.

.jpg)